Thursday, June 10, 2010

Perubahan Iklim



Pada saat ini, bahan bakar fosil (fossil fuel) masih menjadi tumpuan utama sumber energi, yaitu minyak bumi, batubara dan gas alam. Dalam pemanfaatannya selama ini di Indonesia telah terjadi eksploitasi yang sangat masif yang telah mengakibatkan Indonesia dalam waktu dekat akan mengalami krisis energi akibat habisnya cadangan sumber-sumber energi tak terbarukan ini. Diperkirakan dalam 15 tahun Indonesia akan menjadi net-importer minyak bumi jika pada saat tersebut tidak ditemukan cadangan minyak baru.
Selain itu, sumber energi fosil mengakibatkan pencemaran udara yang dihasilkan oleh pembangkit-pembangkit energi tersebut, seperti gas sulfur dioksida (SO2) dan gas-gas rumah kaca (GRK), seperti karbon dioksida (CO2). Banyak penelitian menyebutkan bahwa GRK telah memicu terjadinya pemanasan global akibat adanya efek rumah kaca. Efek rumah kaca terjadi akibat GRK yang terkumpul di atmosfer membentuk selubung yang menghalangi radiasi panas matahari yang dipantulkan bumi tidak dapat lepas ke atmosfer. Lebih lanjut, pemanasan global telah memicu terjadinya perubahan iklim (climate change) yang berdampak pada gangguan di sektor pertanian dan menimbulkan wabah penyakit, seperti malaria.


10 Gejala Pemanasan Global



Ada yang bilang pemanasan global itu hanya khayalan para pecinta lingkungan. Ada yang bilang itu sudah takdir. Ilmuwan juga masih pro dan kontra soal itu. Yang pasti, fenomena alam itu bisa dirasakan dalam 10 kejadian berikut ini. Dan yang pasti ini bukan imajinasi belaka, sebab kita sudah mengalaminya.


* Kebakaran hutan besar-besaran

Bukan hanya di Indonesia, sejumlah hutan di Amerika Serikat juga ikut terbakar ludes. Dalam beberapa dekade ini, kebakaran hutan meluluhlantakan lebih banyak area dalam tempo yang lebih lama juga. Ilmuwan mengaitkan kebakaran yang merajalela ini dengan temperatur yang kian panas dan salju yang meleleh lebih cepat. Musim semi datang lebih awal sehingga salju meleleh lebih awal juga. Area hutan lebih kering dari biasanya dan lebih mudah terbakar.
* Situs purbakala cepat rusak

Akibat alam yang tak bersahabat, sejumlah kuil, situs bersejarah, candi dan artefak lain lebih cepat rusak dibandingkan beberapa waktu silam. banjir, suhu yang ekstrim dan pasang laut menyebabkan itu semua. Situs bersejarah berusia 600 tahun di Thailand, Sukhotai, sudah rusak akibat banjir besar belum lama ini.

* Ketinggian gunung berkurang

Tanpa disadari banyak orang, pegunungan Alpen mengalami penyusutan ketinggian. Ini diakibatkan melelehnya es di puncaknya. Selama ratusan tahun, bobot lapisan es telah mendorong permukaan bumi akibat tekanannya. Saat lapisan es meleleh, bobot ini terangkat dan permukaan perlahan terangkat kembali.

* Satelit bergerak lebih cepat

Emisi karbon dioksida membuat planet lebih cepat panas, bahkan berimbas ke ruang angkasa. Udara di bagian terluat atmosfer sangat tipis, tapi dengan jumah karbondioksida yang bertambah, maka molekul di atmosfer bagian atas menyatu lebih lambat dan cenderung memancarkan energi, dan mendinginkan udara sekitarnya. Makin banyak karbondioksida di atas sana, maka atmosfer menciptakan lebih banyak dorongan, dan satelit bergerak lebih cepat.

* Hanya yang Terkuat yang Bertahan

Akibat musim yang kian tak menentu, maka hanya mahluk hidup yang kuatlah yang bisa bertahan hidup. Misalnya, tanaman berbunga lebih cepat tahun ini, maka migrasi sejumlah hewan lebih cepat terjadi. Mereka yang bergerak lambat akan kehilangan makanan, sementar mereka yang lebih tangkas, bisa bertahan hidup. Hal serupa berlaku bagi semua mahluk hidup termasuk manusia.

* Pelelehan Besar-besaran

Bukan hanya temperatur planet yang memicu pelelehan gununges, tapi juga semua lapisan tanah yang selama ini membeku. Pelelehan ini memicu dasar tanah mengkerut tak menentu sehingga menimbulkan lubang-lubang dan merusak struktur seperti jalur kereta api, jalan raya, dan rumah-rumah. Imbas dari ketidakstabilan ini pada dataran tinggi seperti pegunungan bahkan bisa menyebabkan keruntuhan batuan.

* Keganjilan di Daerah Kutub

Hilangnya 125 danau di Kutub Utara beberapa dekade silam memunculkan ide bahwa pemanasan global terjadi lebih “heboh” di daerah kutub. Riset di sekitar sumber airyang hilang tersebut memperlihatkan kemungkinan mencairnya bagian beku dasar bumi.

* Mekarnya Tumbuhan di Kutub Utara

Saat pelelehan Kutub Utara memicu problem pada tanaman danhewan di dataran yang lebih rendah, tercipta pula situasi yang sama dengan saatmatahari terbenam pada biota Kutub Utara. Tanaman di situ yang dulu terperangkap dalam es kini tidak lagi dan mulai tumbuh. Ilmuwan menemukan terjadinya peningkatan pembentukan fotosintesis di sejumlah tanah sekitar dibanding dengan tanah di era purba.

* Habitat Makhluk Hidup Pindah ke Dataran Lebih Tinggi

Sejak awal dekade 1900-an, manusia harus mendaki lebihtinggi demi menemukan tupai, berang-berang atau tikus hutan. Ilmuwan menemukan bahwa hewan-hewan ini telah pindah ke dataran lebih tinggi akibat pemanasan global. Perpindahan habitat ini mengancam habitat beruang kutub juga, sebab es tempat dimana mereka tinggal juga mencair.

* Peningkatan Kasus Alergi

Sering mengalami serangan bersin-bersin dan gatal di matasaat musim semi, maka salahkanlah pemanasan global. Beberapa dekade terakhir kasus alergi dan asma di kalangan orang Amerika alami peningkatan. Pola hidupdan polusi dianggap pemicunya. Studi para ilmuwan memperlihatkan bahwa tingginya level karbondioksida dan temperatur belakangan inilah pemicunya. Kondisi tersebut juga membuat tanaman mekar lebih awal dan memproduksi lebih banyak serbuk sari.


Es Di Kutub Utara Mengecil Dan Menipis



Kutub Utara berada di atas es yang lebih kecil dan lebih tipis dibandingkan dengan sebelumnya, sementara es tua yang kuat kian tergantikan oleh es muda yang cepat mencair, kata beberapa peneliti di NASA dan National Snow and Ice Data Center di Colorado.


Menurut para peneliti tersebut, maksimum es laut Artik pada musim dingin ini bertambah 15 juta dan 150.000 kilometer persegi, sekitar 720.000 kilometer persegi lebih kecil dibandingkan dengan rata-rata wilayah Kutub Utara antara 1979 dan 2000.

Pada musim dingin normal, es seringkali memiliki ketebalan tiga meter atau lebih, tapi tahun ini, ketebalan lapisan es hampir-hampir tak dapat menembus sasaran yang tepat "Arctic Circle".

"Kita tidak siap menghadapi musim panas," kata ilmuwan dari "Ice Data Center Walt Meier". "Kita berada pada situasi yang sangat genting."

Jumlah es laut tebal mencapai tingkat rendah pada musim dingin dengan luas 680.400 kilometer persegi tahun ini, turun 43 persen dari tahun lalu, kata Meier seperti dikutip dari Xinhuanet-OANA.

Biasanya, es yang tipis dan lebih muda berjumlah 70 persen dari lapisan es. Tahun ini, lapisan itu mencapai 90 persen, kata Meier.

Es laut penting karena memantulkan sinar matahari dari Bumi. Makin banyak es tersebut mencair, makin banyak panas terserap oleh samudra, sehingga menambah panas temperatur di planet ini, kata manager program wilayah kutub NASA Tom Wagner.

Pemanasan itu juga dapat mengubah pola iklim di seluruh dunia dan itu mengubah ekosistem bagi hewan seperti beruang kutub.

Sementara itu kondisi Kutub Selatan juga memprihatinkan.

Satu beting es telah sirna dengan cepat, satu mulai hilang dan gletser mencair lebih cepat dari perkiraan semua orang akibat perubahan iklim, kata beberapa peneliti pemerintah Inggris dan AS pada 3 April.

Mereka mengatakan "Wordie Ice Shelf", yang telah terpecah sejak 1960-an, sirna dan bagian utara "Larsen Ice Shelf" sudah tak ada lagi. Lebih dari 8.300 kilometer persegi telah terpisah dari "Larsen Shelf" sejak 1986.

Perubahan iklim lah penyebabnya, demikian isi laporan dari "US Global Survey" (USGS) dan "British Antartic Survey", sebagaimana disiarkan di dalam laman www.pubs.usgs.gov.

"Berkurangnya gletser dengan cepat di sana memperlihatkan sekali lagi dampak nyata yang sedang dialami planet kita --lebih cepat dari yang sebelumnya diperkirakan-- sebagai dampak dari perubahan iklim," kata Menteri Dalam Negeri AS Ken Salazar dalam satu pernyataan.

"Ini berlanjut dan seringkali pengurangan gletser yang seringkali dengan sangat besar adalah seruan peringatan bahwa perubahan terjadi ... dan kita perlu mempersiapkan diri," kata ahli glasiologi USGS Jane Ferrigno, yang memimpin studi Antartika, dalam satu pernyataan.

"Antartika memiliki kepentingan khusus karena memiliki sebanyak 91 persen volume gletser di Bumi, dan perubahan di mana pun pada lapisan es menimbulkan ancaman besar bagi masyarakat," katanya.

Dalam laporan lain yang disiarkan di dalam jurnal "Geophysical Letters", "National Oceanic and Atmospheric Administration" menyatakan es juga mencair jauh lebih cepat daripada perkiraan di Kutub Utara.

Laporan tersebut didasarkan atas analisis baru komputer dan pengukuran es belum lama ini.

"UN Climate Panel" memproyeksikan bahwa temperatur atmosfir dunia akan naik antara 1,8 dan 4,0 derajat celsius akibat buangan gas rumah kaca, kondisi yang dapat mengakibatkan banjir, kemarau, gelombang panas dan badai lebih kuat.

Sementara gletser dan lapisan es mencair, keadaan itu dapat menaikkan seluruh permukaan air samudra dan merendam daerah dataran rendah.


Suhu Udara Rata-Rata Naik Di Indonesia



Laju perubahan suhu udara kota-kota di Indonesia menunjukkan kenaikan maksimum lebih dari 1 derajat celsius dalam 10 tahun. Dari analisis data iklim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika yang diambil tahun 1983-2003, kenaikan suhu udara per 10 tahun ternyata 0,036 derajat celsius-1,383 derajat celsius.
Kenaikan suhu udara terendah tercatat di Kota Sibolga, Sumatera Utara, mencapai 0,036 derajat celsius dari rata-rata 31,52 derajat celsius. Adapun kenaikan suhu udara tertinggi tercatat di Kota Wamena, Papua, mencapai 1,38 derajat celsius dari rata-rata 25,97 derajat celsius.

"Data kenaikan temperatur itu tingkat kepercayaannya memang masih beragam," kata Kepala Bidang Analisis Klimatologi dan Kualitas Udara BMKG Soetamto di Jakarta, Senin (30/3).

Alasannya, analisis data iklim itu belum memasukkan sistem Mann-Kendall, sebuah sistem untuk memperkuat kebenaran hasil analisis data bertahun-tahun. Meskipun begitu, secara umum tren kenaikan suhu diyakini memang terjadi.

"Meskipun belum dengan sistem Mann-Kendall, data iklim memang menunjukkan tren kenaikan," kata Soetamto. Dari 16 kota yang dianalisis, kenaikan suhu dalam 10 tahun di enam kota/lokasi ternyata mencapai di atas 1 derajat celsius.

Lokasi itu adalah Pulau Bawean, Jawa Timur (1,15 derajat C); Waingapu, Nusa Tenggara Timur (1,11 derajat C); Kupang, NTT (1,35 derajat C); Jayapura (1,22 derajat C), Wamena (1,38 derajat C), dan Merauke (1,15 derajat C)—ketiganya di Provinsi Papua. Di antara 16 kota/lokasi tersebut, suhu kawasan Pulau Tarempa, Natuna, justru diketahui menurun sekitar -0,26 derajat celsius.

Soetamto tidak mengetahui penyebab penurunan suhu di Tarempa atau kenaikan suhu hingga di atas satu derajat di tiga kota di Papua. Penghitungan tersebut didasarkan atas seri data iklim.

Sangat tinggi

Kepala Laboratorium Klimatologi Departemen Geofisika dan Meteorologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor Rizaldi Boer mengatakan, kenaikan 1 derajat celsius dalam sepuluh tahun sangatlah tinggi. "Harus dilihat dulu titik-titik pemantauannya dan sumber panasnya dari mana saja," katanya.

Menurut Panel Ahli Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), jika terjadi kenaikan suhu hingga 2 derajat celsius—dari suhu tahun 1990—pada tahun 2050 kondisi akan sangat sulit dikendalikan. Karena itu, satu-satunya jalan yang dapat dilakukan adalah harus memperlambat kenaikan suhu.

Menurut Rizaldi, kenaikan suhu udara tidak hanya disebabkan oleh sinar matahari atau kenaikan konsentrasi gas rumah kaca. Ada faktor aktivitas industri, transportasi, dan populasi.

Ketiganya faktor yang terkait dengan aktivitas manusia (antroposentris). Aktivitas industri sejak abad ke-16 selama ini diyakini sebagai pemicu awal emisi karbon—salah satu gas rumah kaca yang memerangkap panas bumi.

Berdasarkan hal itu, suhu di kawasan perkotaan dipastikan akan lebih cepat panas daripada daerah kawasan pinggiran atau kawasan dengan vegetasi rapat.

"Suhu rata-rata udara jadi minus, itu mungkin saja. Misalnya, ada penyerap panas seperti hutan di kawasan yang dulunya tidak ada hutannya," katanya.

Dampak perubahan

Saat ini secara global diyakini, perubahan temperatur akan berdampak negatif pada banyak hal. Sejumlah penyakit akan mewabah dalam skala luas, cuaca semakin sulit diprediksi, intensitas badai dan puting beliung akan meningkat, terjadinya penggurunan, terjadi kenaikan permukaan laut, hingga munculnya ancaman ketahanan pangan akibat pola tanam yang berubah-ubah.

Saat ini musim kemarau di Indonesia semakin panjang, sedangkan musim hujan kian pendek. Namun, intensitas hujannya tinggi yang berakibat banyak kejadian banjir dan tanah longsor.

"Temperatur meningkat, dampak negatifnya banyak," kata Rizaldi Boer.

Sektor pertanian kesulitan dengan iklim yang berubah. Musim tanam mengalami pergeseran. Ada yang bergeser maju, tetapi ada pula yang justru mundur. Peta pertanian kini sedang mengalami perubahan.

Ketersediaan air pada saat musim hujan (5 bulan) sebanyak 80 persen dari kebutuhan nasional, sedangkan pada saat kemarau (7 bulan) hanya 20 persen dari kebutuhan.

Keadaan itu diperburuk oleh kondisi irigasi dan daerah aliran sungai. Data Badan Penelitian dan Pembangunan Departemen Pertanian menunjukkan, sebesar 25 persen jaringan irigasi tidak berfungsi optimal.


2012 Dunia Akan Kiamat?



Perkiraan akan datangnya kiamat pada 2012 telah banyak dibahas di berbagai media. Faktanya, perkiraan tersebut sebenarnya merupakan fenomena alami berupa aktivitas maksimal matahari yang rutin terjadi secara berkala setiap 11 tahun sekali.

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Adi Sadewo Salatun menyebutkan, dalam ilmu sains, fenomena seperti ini dikatakan sebagai kiamat scientific.

"Kita mengenal dua kiamat. Satu adalah kiamat reliji yang diyakini setiap umat sesuai dengan kepercayaannya masing-masing, yang kedua adalah kiamat scientific. Para astronom menggambarkannya sebagai aktivitas kekuatan gravitasi matahari yang sangat kuat dan setiap 11 tahun sekali perilakunya meningkat. Saat tarik menarik gravitasi demikian kuat dan tidak tertahankan lagi, hal ini akan menyebabkan ledakan hidrogen," kata Adi.

Secara sederhana, Adi menyebutkan bahwa ketika mengalami aktivitas maksimal, matahari mengeluarkan radiasi yang bisa mempengaruhi Bumi. Saat gravitasinya melemah, matahari akan mengembang dan Bumi bisa masuk ke dalam apinya.

Dampak yang ditimbulkan berpengaruh besar terhadap Bumi. Sebagai contoh, saat terakhir kali terjadi, fenomena ini menyebabkan orbit satelit bergeser. Ketika itu satelit palapa berubah letaknya. Pun dengan satelit-satelit milik negara lain. Satelit Ardios milik Jepang bahkan mati total. Hal ini tentunya mempengaruhi komunikasi masyarakat di Bumi.

Pada kasus yang cukup ekstrim hal ini akan mengganggu transmisi listrik di Bumi yang menyebabkan gardu PLN meledak dan mati listrik.

"Tugas Lapan adalah memberitahukan hal ini kepada operator telekomunikasi, PLN dan masyarakat lainnya menjelang terjadinya fenomena tersebut," kata Adi.

Namun menurut Adi, sejauh pengamatan Lapan hingga saat ini yang terlihat hanya aktifitas matahari yang wajar, belum ada gejala yang perlu ditakutkan.

"Saat matahari akan melakukan aktivitas maksimal, mulai sekarang bisa terdeteksi bagaimana perilakunya," tandasnya.


Plastik Ramah Lingkungan



Ilmuwan berhasil melakukan proses rekayasa bahan polimer untuk pembuatan plastik. Terobosan ini membuka jalan untuk memproduksi plastik ramah lingkungan secara komersil.

Tim yang berasal dari KAIST University dan LG Chem di Korea Selatan fokus meneliti polylactic acid (PLA), bahan polimer berbahan dasar bio sebagai kunci memproduksi plastik dari bahan yang dapat diperbaharui.

"Bahan polyester dan polimer yang kita gunakan setiap hari sebagian besar berasal dari minyak fosil yang dibuat melalui proses kimia dan penyulingan," kata pemimpin studi Sang Yup Lee".

Lee menambahkan, ide memproduksi polimer dari bahan biomas yang bisa diperbaharui telah menarik perhatian publik akhir-akhir ini. Hal itu dikarenakan meningkatnya kepedulian akan masalah lingkungan dan terbatasnya sumber fosil alami.

Itu sebabnya, PLA dipandang sebagai alternatif yang sangat baik untuk menggantikan plastik berbahan dasar minyak bumi. PLA bersifat biodegradable, aman dan tidak beracun bagi manusia.

Hingga saat ini, PLA diproduksi melalui dua langkah fermentasi dan polimerisasi yang kompleks dan mahal. Dengan terobosan baru, ilmuwan bisa melakukan rekayasa E coli secara metabolis untuk menghasilkan polylactic acid co-polymers melalui fermentasi langsung.

Lee menyebutkan, cara ini membuat produksi PLA dan lactate-containing copolymer lebih murah dan potensial untuk dikomersialkan.


Global Warming Sebabkan Gangguan Pernapasan



Perubahan iklim yang mendorong tingginya temperatur udara pada musim panas di Eropa menyebabkan sebagian rumah sakit kebanjiran pasien yang mengalami gangguan pernapasan.

Health Science, Kamis (26/2/2009) melansir, kondisi tersebut didasarkan pada penelitian yang dipublikasikan oleh American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine.

Peneliti Eropa itu mengungkapkan sejak tiga tahun lalu, jumlah penderita gangguan pernapasan di 12 kota Eropa mengalami peningkatan sekira empat persen. Menurut para peneliti hal itu disebabkan peningkatan temperatur yang mencapai 90 persen.
Peningkatan jumlah pasien penderita gangguan tidak mengenal usia. Gangguan pernapasan akibat pemanasan global menyerang seluruh lapisan umur. Tapi untuk umur 75 tahun ke atas tak begitu terlalu berpengaruh.

Peneliti juga mengungkapkan, peningkatan jumlah penderita tidaklah mengagetkan. Namun peneliti berharap agar pemerintah di seluruh dunia dan Eropa pada khususnya wajib memperhatikan hasil penemuan itu.

"Penelitian ini sangat penting dalam bidang kesehatan publik, terutama untuk mencegah sejumlah penyebaran wabah penyakit," ujar Head of Environmental Epidemiology, Roma, Italy, Paola Michelozzi.

Menurut Michelozzi, perubahan iklim yang mengakibatkan tingginya temperatur udara juga akan meningkatkan polusi udara. Hal itu dapat berdampak pada pernapasan manusia.


Dampak Global Warming Pada Anak-Anak



Menurut laporan, efek dari pemanasan global dapat terkena langsung terutama pada anak-anak dan ada beberapa langkah yang dapat diambil untuk melindungi kesehatannya ketika terjadi peningkatan suhu.

American Academy of Pediatric (AAP) mengakui adanya akibat pemanasan global pada kesehatan anak-anak dan membangun strategi untuk melindungi mereka dari potensi kerusakan.

Diluar kenaikan resiko panas terkait dengan kondisi seperti stroke panas dan dehidrasi, para peneliti mengatakan pemanasan global memperburuk penyakit-penyakit umum yang terjadi pada anak-anak seperti asma dan alergi. Selain itu anak-anak juga mempunyai resiko kehilangan orang tua atau pengasuh dalam kaitan dengan kondisi cuaca yang ekstrem.

Pemanasan Global Melukai Anak-anak

Berdasarkan laporan beberapa kelompok, beberapa contoh dari akibat pemanasan global pada kesehatan anak diantaranya :

* Meningkatnya kerentanan pada luka atau kematian, stress paska trauma, kehilangan pengasuh, mengganggu pendidikan dan pergeseran sebagai akibat dari bencana yang ditimbulkan oleh cuaca seperti banjir, angin topan dan kekeringan.
* Kerusakan pada fungsi paru-paru dan pertumbuhan dalam kaitan dengan meningkatnya polusi udara
* Peningkatan penyakit waterborne dan food-borne, termasuk infeksi diare akibat kenaikan suhu dan gangguan dalam suplai makanan
* Peningkatan dalam penularan penyakit melalui nyamuk dan kutu/tungau, seperti virus West Nile, malaria, dan penyakit “Lyme”
* Peningkatan penyerapan dan mudah terkena luka karena panas, terkait dengan kondisi seperti serangan panas (heat stroke) dan kelelahan akibat panas (heat exhaustion).

Para peneliti mengatakan bahwa kesehatan anak-anak paling peka terhadap semua akibat bahaya lingkungan.

Beberapa kelompok mendorong para ahli spesialis anak untuk menjadi contoh dalam meminimalkan efek rumah kaca dan emisi gas terkait dengan pemanasan global dengan membuat suatu perubahan seperti penggunaan lampu pijar, mengurangi penggunaan alat pengatur panas di musim dingin, dan mengurangi penggunaan kendaraan bermotor.


VIDEO

ENTER-TAB1-CONTENT-HERE

RECENT POSTS

ENTER-TAB2-CONTENT-HERE

POPULAR POSTS

ENTER-TAB3-CONTENT-HERE
 

Informasi Kesehatan Copyright © 2010 Indoneter | Indotekhno | Enhaallah | Designed by Lasantha.